PEMANFAATAN PERKEBUNAN KARET DAN JATI SEBAGAI LAHAN PETERNAKAN RAKYAT
(Studi Kasus Penggemukan Sapi dengan Sistem Ingon di Kecamatan Mijen Kota Semarang)
Rancangan Penelitian Disusun dalam rangka memenuhi Tugas Sosiologi kelas 3
Disusun oleh:
Maskumambang Kuncarajati
SMA KESATRIAN 2 SEMARANG
2004
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kondisi perekonomian Indonesia yang semakin tidak menentu menyebabkan banyak permasalahan yang timbul dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satunya yaitu tingginya tingkat pertumbuhan penduduk terutama di kota besar, yang mengakibatkan semakin berkurangnya lahan pertanian maupun peternakan. Seiring dengan semakin padatnya populasi penduduk yang diikuti peningkatan penghasilan perkapita menjadikan masyarakat lebih bersifat konsumtif. Dalam hal ini kebutuhan primer manusia yaitu, meliputi pangan, sandang, dan papan semakin meningkat pula terutama di negara berkembang. Salah satunya Indonesia, pemenuhan kebutuhan konsumsi bahan pangan yang banyak mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan sebagainya, sangat dibutuhkan karena hal ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap penduduk dalam rangka peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) Indonesia. Terutama kebutuhan protein baik protein nabati maupun hewani sangat diperlukan. Salah satunya protein hewani baik berupa daging, telur, dan susu. Terutama daging, mutu dan kualitasnya tergantung pada produksi daging hewan ternak yang beredar di pasaran. Baik tidaknya mutu dan kualitas daging sebetulnya sangat dipengaruhi oleh fasilitas yang diberikan kepada hewan ternak. Apabila fasilitas yang diberikan itu memadai maka bukan tidak mungkin jika daging hewan ternak potong yang beredar di pasaran memenuhi baik mutu maupun kualitasnya. Adapun jenis fasilitas pokok yang seharusnya diberikan pada hewan ternak antara lain, yaitu pemberian makan dan pemeliharaan dengan menggunakan lahan yang cukup memadai. Namun pada kenyataanya pemberian fasilitas pada hewan ternak belum bisa dipenuhi oleh petani ternak yang disebabkan kondisi Indonesia yang sedang mengalami krisis moneter. Kecendurungan ini diduga menjadi penyebab ketidakmampuan produsen sapi potong memenuhi permintaan daging dalam negeri.
Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan tersebut, dalam hal ini pemerintah berupaya menggalakan program peternakan lokal, impor daging, maupun program lainnya yang bertujuan meningkat mutu dan kualitas daging yang dikonsumsi oleh masyarakat. Akan tetapi salah satu dari program pemerintah yaitu berupa impor daging dinilai kurang efektif, karena banyak hal yang justru merugikan bagi pemerintah itu sendiri. Antara lain peternakan domestik kalah bersaing dengan daging impor dalam pemenuhan daging dalam negeri. Kerugian lainnya adalah banyak terjadi kasus daging yang diimpor ke Indonesia adalah daging yang tidak sehat atau berpenyakit. Maka dari itu, impor daging apabila masih dilakuakan dinilai kurang efektif sebab disinyalir akan semakin memperparah kondisi perekonomian yang terjadi di Indonesia, karena kurs rupiah yang overvalued, tingkat suku bunga tinggi, pola perdagangan luar negeri yang pro-impor, serta pola industrialisasi berbasis sumber daya impor secara sistematis menekan dan bisa menghancurkan sendi-sendi peternakan domestik.
Untuk itu, agribisnis dibidang peternakan perlu ditingkatkan, karena dinilai paling efektif diterapkan di Indonesia dan sesuai dengan kebijaksanaan Subsektor Peternakan, usaha ternak sapi potong terus-menerus digalakkan untuk mengimbangi permintaan daging yang senantiasa meningkat sementara persediaan kerapkali terbatas. Selain dapat menghemat devisa negara, agribisnis mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Khususnya ternak sapi, baik sapi potong maupun sapi kerja sangat berperan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang notabene sebagai masyarakat agararis. Peranan ternak sapi potong dan sapi kerja dinilai berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia itu sendiri. Melalui ternak sapi potong, disamping kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, kebutuhan gizi, kelestarian alam dan kesempatan kerjapun akan terpenuhi. Sedangkan melalui ternak sapi kerja, yang akhirnya menjadi sapi potong ini usaha pertanian bisa terbantu. Karena itu sapi kerja jelas merupakan partner bagi para petani dalam usaha mengolah tanahnya. Itulah sebabnya mengapa kembali ke agribisnis dinilai sangat efektif. Maka dari itu, pemerintah dituntut keterampilannya dalam meningkatkan agribisnis yang lebih banyak mendatangkan keuntungan, terutama dalam pengusahaan ternak sapi potong dan sapi kerja.
Mengenai permasalahan kondisi ekonomi Indonesia yang menglami krisis moneter yang berdampak luas terutama terhadap sektor pertanian (termasuk didalamnya peternakan) di atas, maka kami tertarik untuk meneliti apa yang terjadi di area di perkebunan jati dan karet di kecamatan Mijen kota Semarang, dimana tempat tersebut sering dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk kegiatan berternak terutama ternak sapi. Bahkan kegitan tersebut dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Hal yang cukup menarik disini adalah penggunaan perkebunan jati dan karet sebagai solusi kurangnya lahan yang digunakan untuk kegiatan beternak oleh penduduk sekitar dalam rangka usaha penggemukan hewan sapi sebagai ternak kerja dan akhirnya menjadi sapi potong, sehingga diharapkan peternakan rakyat tersebut mampu berperan dalam memenuhi kebutuhan daging lokal. Oleh karena itu, dengan argumentasi latar belakang inilah kami mengambil judul “Pemanfaatan Perkebunan Karet dan Jati Sebagai Lahan Peternakan Rakyat (Studi Kasus Usaha Penggemukan Sapi dengan Sistem Ingon di Kecamatan Mijen Kota Semarang) “.
1.2 Permasalahan
Dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan adalah:
- Bagaimana model peternakan rakyat di perkebunan jati dan karet kecamatan Mijen kota Semarang.
- Jenis tumbuhan apa saja yang menjadi bahan makanan sapi ingon di perkebunan jati dan karet..
- Apa manfaat yang diperoleh masyarakat sekitar dalam mengusahakan peternakan sapi dengan sistem ingon.
- Apa pengaruh peternakan sapi ingon tersebut terhadap kemajuan peternakan domestik dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging lokal.
1.3 Tujuan Penelitian
- Mengetahui model peternakan rakyat di perkebunan jati dan karet kecamatan Mijen kota Semarang.
- Mengetahui jenis tumbuhan apa saja yang menjadi bahan makanan sapi ingon di perkebunan jati dan karet.
- Mengetahui manfaat yang diperoleh masyarakat sekitar dalam mengusahakan peternakan sapi dengan sistem ingon.
- Mengetahui pengaruh peternakan sapi ingon tersebut terhadap kemajuan peternakan domestik dalam rangka pemenuhan kebutuhan daging lokal.
1.4 Penegasan Istilah
Guna memperjelas pemahaman tentang ruang lingkup dalam penelitian ini, maka kami jelaskan beberapa istilah sebagai berikut:
- Penggemukan adalah usaha mengubah bentuk protein makanan agar bias dicerna menjadi protein hasil ternak yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
- Perkebunan adalah tempat atau lahan luas yang dipergunakan untuk penanaman dan pembudidayaan tumbuhan tertentu.
- Sapi ingon adalah sebutan untuk sapi-sapi yang diternak di perkebunan jati dan karet di kecamatan Mijen, kota Semarang karena memanfaatkan kebun jati dan karet sebagai lahan peternakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Golongan Sapi Potong dan Kerja
Sapi-sapi yang sekarang ada dan tersebar hampir di seluruh permukaan bumi ini berasal dari jenis-jenis sapi primitif. Sapi-sapi jenis primitif tersebut adalah golongan :
a. Bos Sondaicus, atau Bos Banteng .
b. Bos Indicus, atau Sapi Zebu.
c. Bos Taurusm, atau Sapi Eropa (Bambang Agus Murtidja, 1990: 16)
2.2 Perkembangan Sapi Potong dan Kerja di Indonesia
Perkembangan ternak sapi potong dan kerja di Indonesia belum begitu memadai dan belum begitu maju seperti negara-negara maju. Hal ini tentu saja banyak faktor penyebabnya, antara lain :
a. Para petani ternak belum memberikan perhatian sepenuhnya, terutama pada segi pemeliharaan , pemberian makan dan bibit yang dipergunakan.
b. Konsumen kurang.
c. Konsumen belum bisa mengharagi mutu daging (AAK, 1991: 12)
2.3 Produksi Ternak Sapi di Indonesia
Sampai saat ini ternak sapi di Indonesia belum bisa memberikan produksi seperti ternak sapi di luar negeri. Hal ini dimaklumi, karena :
a. Sifat pemeliharaannya masih tradisional.
b. Tidak ada seleksi terarah.
c. Belum ada suatu penelitian yang bisa memberikan petunjuk jenis sapi mana yang bisa digemukan di daerah tropis (AAK, 1991: 12)
2.4. Panca Usaha Ternak Potong ( PUTP )
Untuk mengejar produksi ternak yang baik, para petani ternak harus meninggalkan cara-cara lama, beralih dari pemeliharaan yang tradisional ke pemeliharaan yang lebih maju (AAK, 1991: 13). Oleh karena itu, para petani ternak harus diperkenalkan pada ilmu yang menunjang upaya pengembangan dan mutu ternak, antara lain seperti:
a. Breeding
b. Feeding
c. Manajemen
Dalam usaha meningkatkan ternak sapi, khususnya penggemukan, ternyata ketiga hal tersebut di Indonesia telah lama dilaksanakan dan telah masuk dalam program pemerintah dalam menjabarkan Panca Usaha Ternak Potong ( PUTP ). Panca Usaha Ternak Potong ( PUTP ) ini meliputi :
a. Penggunaan bibit yang baik ( unggul )
b. Pemberian pakan yang baik dalam jumlah yang memadai bagi ternak sapi yang bersangkutan.
c. Penerapan cara pemeliharaan yang baik dan sehat
d. Pemberantasan penyakit yang membahayakan ternak
e. Menciptakan pemasaran hasil yang mengutungkan
2.5 Makanan Ternak
Keberhasilan usaha ternak sapi, yaitu sapi kerja maupun sapi potong mungkin tercapai apabila faktor-faktor penunjangnya memperoleh perhatian penuh (AAK, 1991: 33). Disamping faktor genetis dan manajemen, salah satu faktor yang utama adalah makanan. Oleh karena itu, ternak sapi harus diimbangi dengan pemberian makanan yang baik pula.
Pemberian makanan harus dilakukan secara continue sepanjang waktu. Sebab, pemberian makanan yang tidak continue akan menimbulkan goncangan terhadap sapi-sapi tersebut, sehingga pertumbuhannya dapat terganggu (AAK, 1991).
Yang menjadi makanan pokok ternak bagi usaha peternakan adalah makanan hijauan. Disamping itu, juga sudah banyak pabrik seperti ricemill, pabrik minyak kelapa, pabrik tahu, penggilingan padi, dan sebagainya yang semuanya itu sisa produksinya dapat berupa katul, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kedelai, dan itu dapat dimanfaatkan untuk makanan penguat yang bergizi tinggi (AAK, 1991).
Pertumbuhan sapi-sapi yang dipelihara di daerah tropis sering kali mengalami kurva naik turun yang tajam. Pada musim penghujan, pertumbuhan dan pertambahan berat badannya cepat, namun sangat berbeda sekali pada saat musim kemarau, pertumbuhannya terhambat atau bahkan menurun drastis, karena makanan yang berupa hijauan berkurang.
Makanan sapi yang memenuhi syarat menurut AAK, 1991 adalah makanan yang banyak mengandung protein, karbohidrat, vitamin, lemak, mineral, dan air. Kesemuanya itu biasa didapat dalam bentuk hijauan dan konsentrat.
a. Protein
Protein berfungsi:
1) Memperbaiki dan mengganti sel tubuh yang rusak
2) Pertumbuhan atau pembentukan sel tubuh.
3) Keperluan berproduksi.
4) Diubah menjadi energi.
Sumber-sumber protein:
1) Hijauan dari jenis leguminosa, centrosema pubescens, daun turi, lamtoro, dan lain-lain.
2) Makanan tambahan berupa makanan penguat, contohnya : bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, katul, tepung darah, tepung ikan, dan lain-lain.
b. Lemak
Lemak berfungsi:
1) Sumber tenaga.
2) Pembawa vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, yaitu vitamin A, C, D, E, dan K.
Sumber lemak antara lain berasal dari bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, bungkil kacang kedelai.
c. Karbohidrat
Karbohidrat berfungsi:
1) Sumber tenaga.
2) Pembentukan lemak di dalam tubuh.
Sumber karbohidrat dapat dipenuhi oleh bahan hijauan.
d. Mineral
Mineral berfungsi:
1) Pembentukan jaringan tubuh.
2) Keperluan berproduksi.
3) Mengganti mineral dalam tubuh.
Sumber mineral utama adalah hijauan dan suplemen.
e. Vitamin-vitamin
Vitamin-vitamin berfungsi:
1) Mempertahankan kekuatan tubuh.
2) Memajukan kesehatan dalam berproduksi.
Sumber utama vitamin adalah hijauan.
f. Air
Air berfungsi:
1) Mengatur suhu tubuh.
2) Membantu proses pencernaan.
Berdasarkan keterangan diatas maka peranan terpenting dalam pembuatan makanan hewan ternak adalah tumbuhan hijau yang mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan oleh hewan ternak itu sendiri.
Terdapat perbedaan antara jenis makanan terutama hijauan antara yang kering dan hijauan basah. Secara umum hijauan dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hijauan yang diberikan dalam bentuk segar.
b. Hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja dikeringkan ataupun jerami kering. (AAK, 1991).
2.6 Lahan Peternakan
Usaha penggemukan sapi potong bertujuan menghasilkan keuntungan. Menurut Zainal Abidin, 2002, agar suatu usaha memperoleh keuntungan seperti yang diharapkan, perencanaannya harus dibuat dengan pertimbangan matang. Analisis kompeherensif mengenai kelayakan suatu wilayah atau tempat untuk lokasi penggemukan sapi potong merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha penggemukan sapi potong.
Berikut beberapa metode penggemukan sapi dibagi menjadi 4 macam, yaitu:
a. penggemukan di padang penggembalaan (pasture fattening).
b. Penggemukan sistem dry lot fattening.
c. Penggemukan sistem kombinasi.
d. Penggemukan sapi dengan pola kereman.
Dari penjelasan diatas, terutama metode penggemuakn di padang penggembalaan (pasture fattening) maka sapi dapat dikandangkan di kebun karet. Hal tersebut bisa dilakukan jika kelembapan dan topografi lokasi memungkinkan, selain kapasitas lingkungan berupa ketersediaan bahan pakan dan air juga perlu diperhatikan (Zainal Abidin, 2002).
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, yang kami pilih sebagai tempat penelitian adalah perkebunan jati yang terletak di suatu lembah bukit tepatnya di dusun Telogo, kelurahan Jatibarang, kecamatan Mijen, kota Semarang dan perkebunan karet yang terletak di dusun Pesantren, kelurahan Pesantren, kecamatan Mijen, kota Semarang.
3.2 Desain Penelitian
Metode yang kami pakai dalam penelitian kami ini adalah metode diskriptif analisis dan metode historis dokumenter, yang berupa metode dengan menganalisis suatu data dengan cara menggambarkan secara gamblang dan dengan mencari data-data yang berasal dari badan atau instansi dari tahun ke tahun. Sehingga diharapkan penelitian yang kami buat ini memiliki ketepatan data yang diinginkan.
3.3 Populasi dan Sampel
Dalam penelitian kami ini yang menjadi populsi adalah seluruh petani ternak yang memanfaatkan area perkebunan jati dan karet sebagai tempat pemeliharaan hewan ternak.
Sedangkan sampel yang menjadi responden, kami menggunakan beberapa orang informan untuk mendapatkan data dengan asumsi informan tersebut menguasai dan mengetahui daerah perkebunan itu.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Seleluruh data yang dipergunakan untuk melakukan analisis penelitian adalah dengan menggunakan 3 metode yaitu :
- Metode dokumentasi
Kami mengambil beberapa gambar sebagai sumber data di lapangan.
- Metode interview
Merupakan metode pengumpulan data dengan wawancara langsung pada responden yang menjadi sampel dengan alat bantu angket yang telah dipersiapkan.
- Metode observasi
Metode ini diupayakan dapat mengetahui kebenaran data di lapangan untuk mencocokkan dengan data yang diperoleh.
3.5 Analisis Data
Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis diskriptif, yaitu dengan penggambaran daerah penelitian baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
DAFTAR PUSTAKA
A.A.K. 1991. Petunjuk Beternak Sapi potong dan Kerja. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
A.A.K. 1992. Hijauan Makanan Ternak Sapi Potong. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Abidin, Zainal. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Jakarta: AgroMedia.
Murtidja, Bambang Agus. 1990. Beternak Sapi Potong. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Santoso, Undang. 1997. Prospek Agribisnis penggemukan Pedet. Jayagiri: Penebar Swadaya.
Sarwono, B dan Hario Bimo Arianto. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Cimanggis: Penebar Swadaya.
INSTRUMEN PENELITIAN
No. Responden :
Nama Responden :
Umur :
Pekerjaan :
A. Model peternakan
1. Jenis hewan ternak yang diusahakan bapak adalah…..
2. Jika sapi, jenis sapi apakah yang diusahakan dalam peternakan tersebut…..
3. Status hewan ternak yang dipelihara adalah…..
4. Apakah peternakan sapi tersebut sebagai usaha penggemukan…..
5. Apakah pemerintah setempat berperan dalam usaha tersebut…
6. Apakah bapak memberi makan secara teratur kepada hewan ternak…..
7. Apakah bapak memberi minum kepada hewan ternak secara teratur…..
8. Apakah bapak mempunyai kandang sendiri bagi ternak…..
B. Makanan ternak
9. Jenis makanan apa saja yang menjadi makanan ternak bapak
10. Jenis tumbuhan apa saja yang menjadi sumber makanan sapi
a.
b
c.
d.
e.
f.
g. dst
C. Penghasilan
11. Kira-kira berapa modal awal setiap ternak satu sapi…..
12. Dalam satu tahun keuntungan yang dapat diterima berapa….Rp….
13. Biaya yang di perlukan dalam pemeliharaan selama satu tahun Rp…
14. Usaha yang dilakukan bapak dalam beternak adalah…
15. Alasan bapak mengusahakan peternakan adalah…..
![]()





kaka terimakasih……semoga berguna buat saya….keren…contoh2 proposalnya….
semoga bermanfaat
Wah wah, membantu banget nih kk =D
Aku sama skali nggak ngerti cara bikin proposal XD
Makasih kk~
trims
salam kenal sesama gr sosiologi dari BPK Penabur Cirebon. Maksih informasi ilmunya….
thx 4 this proposal y,,
pak bambang…,, bisa buatkan proposal pengolahan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. kami ada sekelompok tani yang gak punya modal….
kalau bisa kirim kesini ya pak atantukul@ymail.com
trimakasih anda sngat membantu sya